TASYABBUH, REFLEKSI PERINGATAN KEMERDEKAAN

oleh Esep M Zaini

Jelang atau pada hari H Tujuh Belasan atau Agustusan sering kita lihat berbagai lomba permainan tradisional. Ada balap karung, panjat pinang, adu bantal di atas kolam, gigit kerupuk, gigit sendok berisi klereng, gigit uang yang ditusukan ke permukaan jeruk bali, dan sebagainya.

Di antara perlombaan permainan tersebut ada yang suka memakai busana tertukar/ditukar. Para lelaki atau bapak memakai pakaian kaum perempuan atau ibu. Biasanya dalam permainan sepak bola, lomba gendong suami istri, lomba joged balon suami istri, dan sebagainya.

Pada puncak peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahun selalu meriah. Tentu tidak ada yang salah. Hal tersebut sebagai ekspresi kegembiraan atas anugerah dari Allah Swt.: Bagian dari rasa syukur. Indonesia Merdeka!

Tetapi jangan salah kaprah. Bersyukur tidak mesti seperti itu. Ekspresi seperti itu sebagai bentuk uporia sesaat. Spontan. Jangan berlebihan. Apalagi sampai melanggar syariat agama sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.

Adapun Larangan mengenai ‘tasyabbuh’ (menyerupai) dalam hal pakaian dinyatakan oleh Nabi Shalallahualaihi wasalam dalam hadits berikut ini.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wasallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” [HR. Ahmad, no. 8309; Abu Dawud, no. 4098; Nasai dalam Sunan al-Kubra, no. 9253. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth].

Oleh karena itu, pakaian yang khusus bagi wanita, tidak boleh dipakai oleh kaum laki-laki, seperti daster, kebaya, BH, kerudung, cadar, sandal wanita, dan semacamnya.

Bahkan Ibnu Jarir mengatakan dengan jelas, bahwa haram bagi laki-laki memakai hijab yang biasa dan khusus digunakan perempuan. Allah melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki dalam hal yang khusus bagi laki-laki, baik dari segi pakaian, perhiasan, suara dan lainnya. Juga Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dalam hal yang khusus bagi perempuan.

Jangan lupa, yang dilihat oleh anak-anak atau remaja, berulang, itu adalah bagian dari pendidikan yang menyimpang. Membekas dalam benak mereka. Berulang setiap perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Akan menjadi sebuah kebenaran dan kebaikan.

Cara bersyukur yang baik, bersyukur sesuai dengan agama masing-masing. Uporia tumpahkan dalam berdoa. Kemerdekaan diisi dengan belajar (ilmu agama dan ilmu umum) yang sungguh-sungguh. Ilmu yang diraih untuk membangun bangsa dan negara yang baldatun thayibatun warabun gafur.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

émz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *