JANGAN SUKA MENGKAMBINGHITAMKAN KAMBING!

oleh Esep M Zaini

اللهُ اكبَرْ، اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُو ِللهِ الحَمْد

Hari Raya Kurban atau Idul Adha oleh sebagian orang ditunggu-tunggu karena dapat dijadikan kesempatan untuk makan daging kambing. Daging kambing dapat diolah menjadi sate atau gulai.

Namun tidak semua orang di Hari Raya Idul Adha dapat mengkonsumsi daging kambing. Terutama bagi mereka yang mempunyai riwayat darah tinggi atau hipertensi. Sebab selama ini diyakini, daging kambing dapat memicu darah tinggi atau hipertensi. Namun, benarkah daging kambing menyebabkan darah tinggi?

A. Tinjauan Ahli Gizi
Mengonsumsi daging kambing tidak sepenuhnya menjadi penyebab darah tinggi. Penjelasan terkait hal itu dapat ditemukan dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan: Memahami Gejala, Tanda dan Mitos (2019) karya Umar Zein dan Emir El Newi.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa daging kambing tetap lebih baik daripada daging sapi maupun ayam, sehingga aman dikonsumsi, bahkan oleh penderita hipertensi. Lantas, mengapa kerap muncul keluhan darah tinggi usai mengonsumsi olahan daging kambing?

Mengonsumsi daging kambing bisa berbahaya bagi kesehatan termasuk hipertensi, jika dimasak dengan cara yang tidak tepat. Di Indonesia, banyak orang memasak daging kambing dengan cara digoreng lebih dulu sebelum diolah lebih lanjut.

Selain itu, daging kambing kerap juga disajikan dengan cara dipanggang dan dibakar untuk dijadikan sate atau kambing guling. Memasak dengan cara digoreng, dibakar atau dipanggang dapat meningkatkan kalori makanan daripada versi mentahnya.

Terlebih lagi, mengolah daging dengan cara-cara tersebut membutuhkan banyak minyak goreng, mentega, atau margarin, yang akan berubah menjadi lemak yang kemudian diserap oleh daging.

Selain itu, suhu panas ketika menggoreng atau memanggang dapat membuat kandungan air di dalam daging menguap hilang dan digantikan oleh lemak dari minyak. Lemak yang terserap di daging inilah yang akhirnya menyebabkan makanan yang tadinya mengandung rendah kalori menjadi tinggi kalori.

Peningkatan kalori pada daging kambing setelah dimasak bahkan bisa mencapai 64 persen dari kalori sebelumnya. Padahal, asupan tinggi kalori dalam tubuh akan diubah menjadi lemak.

Lemak tersebut lama-kelamaan bisa menumpuk di pembuluh darah sehingga menyebabkan pembuluh darah menyempit dan meningkatkan tekanan darah.

Di samping itu, penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak daging kambing juga secara tidak langsung dapat menjadi pemicu tekanan darah tinggi. Bumbu penyedap seperti kecap, garam, dan MSG, cenderung mengandung sodium tinggi dan pengawet yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan.

Tak hanya itu, daging kambing juga sering diolah menjadi makanan bersantan, seperti gulai kambing, kari kambing, maupun rendang kambing. Santan secara alami tidak mengandung kolesterol, namun takaran konsumsinya juga harus diwaspadai karena kandungan lemak jenuh pada santan yang tergolong cukup tinggi.

Kandungan gizi daging kambing sangat baik.
Kadar kolesterol daging kambing lebih rendah dibanding daging sapi dan daging ayam. Kadar kolesterol daging kambing hanya sekitar 57 mg per 100 gram. Sedangkan kadar kolesterol daging sapi sekitar 89 mg per 100 gram dan daging ayam 83 mg per 100 gram.

Kandungan lemak pada daging kambing juga terhitung lebih rendah dibanding daging sapi maupun daging ayam. Jika ditotal, kandungan lemak pada 100 gram daging kambing hanya 2,3 gram. Sedangkan kandungan lemak pada 100 gram daging sapi bisa mencapai 15 gram dan daging ayam kurang lebih 7,5 gram.

Selain kandungan kolesterol dan lemak, kandungan kalori daging kambing juga terhitung lebih rendah dibanding daging sapi maupun daging ayam. Setiap 100 gram daging kambing mengandung sekitar 109 kalori. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding daging sapi yang mencapai 250 kalori dan daging ayam 196 kalori.

Meski demikian, daging kambing tetap merupakan sumber protein hewani yang sama baiknya dengan daging sapi maupun daging ayam. Total protein hewani dalam 100 gram daging kambing kurang lebih mencapai sekitar 20 gram, sementara daging sapi 25 gram dan daging ayam 30 gram.

Menurut para ahli gizi, bahwa yang harus dihindari pada bagian jeroan. Bukan cuma jeroan kambing, tetapi jeroan semua hewan. Apalagi bila dikonsumsi secara berlebih.

Al-Farzdaq berkata, “Ambillah daging bagian depan. Hindarilah kepala dan perut, karena keduanya adalah sarang penyakit”.

B. Keberkahan Kambing
Ketika kita melakukan sesuatu selalu dihubungkan dengan hal-hal yang pernah dilakukan Rasulullah SAW (sunah Rasulullah). Sebab, di dalamnya ada keberkahan dan pahala. Begitupun dengan mengonsumsi daging, khususnya daging kambing. Berikut hal-hal teladan Rasulullah SAW yang berkenaan dengan kambing.

  1. Nabi Muhammad SAW Penggembala Kambing
    Keberkahan dalam daging kambing pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits berikut.

“Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat barakah,” (H.R. Ahmad).

“Tidaklah seorang Nabi diutus melainkan ia menggembala kambing. Para sahabat bertanya, ‘apakah engkau juga?’. Beliau menjawab, ‘iya, dahulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath’,” (H.R. Al Bukhari, no. 2262).

  1. Nabi Muhammad SAW Suka Makan Daging Kambing
    Daging kambing merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah SAW. Bagian kambing yang disukai Beliau adalah bagian lengan.

Abu Hurairah RA berkata, “Suatu ketika dihidangkan ke hadapan Rasulullah Shallallahualaihi wasallam semangkuk bubur dan daging. Maka Beliau mengambil bagian lengan (dari daging tersebut). Dan bagian itulah yang paling disenangi oleh Nabi Muhammad Shallallahualaihi wasallam,” (H.R. Muslim).

Namun, bukan berarti Beliau tidak menyukai bagian lain dari daging kambing. Dhuba’ah binti Zubair menceritakan, bahwa ia pernah menyembelih seekor kambing. Ketika utusan Rasulullah SAW menemuinya, yang tersisa dari daging kambing itu hanya lehernya, sehingga ia malu jika harus menghadiahkan kepada Beliau.

Utusan Nabi Muhammad SAW kemudian menceritakan itu kepada Beliau. Lalu Beliau bersabda, “Kembalilah kepadanya dan katakan ‘Antarkan saja leher tersebut, karena itu adalah penunjuk kambing lebih dekat kepada kebaikan dan paling jauh dari penyakit,” (H.R. Bukhori Muslim dan Ahmad).

Indikasi lain, bahwa daging kambing bukan menjadi ‘sumber penyakit’ adalah riwayat tentang Qurban yang dimulai oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dalam kisah tersebut, perintah untuk menyembelih Ismail kemudian diganti dengan domba.

Latar belakang lain, tentang syariat berupa aqiqah saat anak baru lahir. Orang tua muslim yang mampu wajib menyembelih dua ekor kambing bila yang lahir anak lelaki, dan satu ekor untuk perempuan.

“Kok, bukan sapi, bukan unta? Mengapa domba? Berarti ada pesan di situ,” ucap Ustaz Khalid Basalamah.

Kita harus memperhatikan betul faktor pengolahan daging kambing. Selain itu tentunya memperhatikan syariat, mulai dari sebelum pemotongan, saat pemotongan, hingga pembersihan daging dan cara memasaknya.

Kita sembelih dengan cara syariat sehingga darahnya benar-benar tumpah, tidak boleh hewan stres. Itu semua kita lakukan demi kenikmatan dan kesehatan.

  1. Manfaat Daging Kambing
    Selama ini daging kambing erat dikaitkan dengan penyakit kolesterol. Sebenarnya daging kambing juga menyimpan segudang manfaat.

Dalam sebuah hadits, Ibnul Qayyim berkata, “Daging Kambing dapat menjadikan darah yang sehat dan kuat bagi siapa saja yang dapat mengunyah dengan baik. Daging itu cocok bagi orang-orang yang tinggal di daerah dengan iklim dingin dan sedang”.

Cocok pula bagi mereka yang suka berolahraga di tempat-tempat yang dingin atau pada musim dingin. Daging juga bermanfaat bagi mereka yang lemah daya pikirnya karena daging dapat menguatkan daya pikir dan daya hafal seseorang.

Bagian daging yang paling baik adalah yang terlindung dengan tulang. Bagian sebelah kanan lebih baik daripada sebelah kiri. Dan, bagian depan lebih baik daripada bagian belakang.
Rasulullah SAW lebih menyukai bagian depan seekor kambing. Daging bagian atas juga lebih baik daripada bagian bawahnya, kecuali bagian kepala. Demikian dipaparkan dalam buku Panduan Diet Ala Rasulullah karya Indra Kusumah SKL, S.Psi.

  1. Pandangan Ulama tentang Daging Kambing
    Dilansir dari hidayatullah.com, para ulama pernah menyampaikan pendapatnya soal manfaat daging kambing. Seperti Muhammad bin Wasi’ yang menyebut, bahwa daging kambing dapat menambah kekuatan penglihatan.

Sementara Qadhi Iyadh berkata, “Rasulullah SAW gemar mengambil daging bagian lengan disebabkan oleh kematangannya, aroma yang wangi, rasa yang lazat, manis dan jauh dari tempat-tempat yang berbahaya,”.

Menurut Imam Az-Zuhri, daging kambing menambah 70 kekuatan atau tenaga. Juga sahabat Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, “Makanlah daging, sesungguhnya daging dapat membuat warna menjadi jernih, membuat perut menjadi lapar dan dapat memperbaiki akhlak”.

Al-Farzdaq berkata, “Ambillah daging bagian depan. Hindarilah kepala dan perut, karena keduanya adalah sarang penyakit”.

Begitu pula dengan Adz-Dzhahabi dalam Thibbun Nabawi menjelaskan jika limpa daging kambing tidak bagus, maka bisa mengakibatkan sakit empedu.

Umar bin Khaththab menganjurkan untuk tidak makan daging kambing berlebihan, “Hindarilah daging, karena sesungguhnya daging itu mengandung zat yang ganas seperti ganasnya khamer,” (Imam Malik dalam Al-Muwaththa).

  1. Keberkahan pada Kambing
    Ada berkah pada kambing karena hewan tersebut dapat bermanfaat tidak hanya untuk makanan, tetapi banyak hal. Hal itu pernah diuraikan oleh ahli tafsir Al-Qurthubi rahimahullah, “Allah telah menjadikan berkah pada kambing, yaitu kambing bisa dimanfaatkan untuk pakaian, makanan, minuman, banyaknya anak, karena kambing beranak tiga kali dalam setahun. Sehingga memberikan ketenangan bagi pemiliknya. Kambing juga membuat pemiliknya rendah hati dan lembut terhadap orang lain,” (Dalam Aljamili Ahkaamil-Quran 10/80, Darul Kutub Al-Mishriyah, Kairo, 1384 H., Syamilah).

Oleh karena itu, bagi kita yang mampu, marilah untuk selalu berkurban kambing. Selain, berbagai manfaat dan keberkahan yang telah diungkapkan sebelumnya, juga akan menambah gairah para peternak kambing di seluruh pelosok bumi ini. Khususnya, masyarakat Indonesia. Ekonomi kerakyatan akan selalu tumbuh dengan baik dan sehat. Pun, kaum duafa akan ikut serta menikmati kelezatan daging kambing.

Jadi, jangan sekali-kali berani mengkambinghitamkan kambing, ya!

émz

1 Komentar

  1. Masya Allah luar biasa, tulisan yang lezat. Bercita rasa nikmat antara kesehatan, makanan dan pola hidup rosulullah SAW, diracik menjadi menu yang mengguggah rasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *